Surakarta – Balai Pemasyarakatan (Bapas)
Kelas I Surakarta terus memperkuat perannya dalam upaya pencegahan kenakalan
remaja dan perlindungan anak melalui program Bapas Goes to School. Kali
ini, kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
(MPLS) di SMP Warga Surakarta, Senin (20/7), dengan mengusung tema "Toleran
dengan Beriman" dan "Happy Tanpa Bully".
Kegiatan
yang berlangsung di Aula SMP Warga Surakarta pukul 08.00 hingga 10.00 WIB ini
diikuti oleh 75 peserta didik baru. Selain memberikan pembekalan karakter
kepada para siswa, kegiatan juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya
menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari
segala bentuk perundungan.
Tim Bapas
Surakarta dipimpin oleh Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Madya Sutomo
selaku Ketua Tim Bapas Goes to School SMP Warga Surakarta didampingi oleh PK
Muda Andrina, PK Pertama Didik Budi, PK Pertama Galuh Ika, PK Pertama Fadli,
serta Taruna Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekimipas), Aldo Satria.
Dalam
penyampaiannya, Sutomo menekankan bahwa sekolah merupakan tempat yang tepat
untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini. Menurutnya, membangun budaya
saling menghargai, toleransi, dan kepedulian antarsesama akan menjadi bekal
penting bagi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
"Melalui
program Bapas Goes to School, kami ingin menanamkan kesadaran kepada
para peserta didik bahwa setiap anak memiliki hak untuk belajar dalam
lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan. Sikap toleransi,
empati, dan saling menghormati harus menjadi budaya yang tumbuh sejak hari
pertama mereka berada di sekolah. Pencegahan selalu lebih baik daripada
penanganan setelah terjadi masalah," ujar Sutomo.
Ia juga
menjelaskan bahwa kehadiran Bapas di lingkungan pendidikan merupakan bagian
dari komitmen Pemasyarakatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat
mengenai perlindungan anak sekaligus memperkenalkan tugas dan fungsi Balai
Pemasyarakatan yang tidak hanya berfokus pada pembimbingan klien, tetapi juga
aktif melakukan langkah-langkah preventif melalui penyuluhan dan pembinaan
kepada masyarakat.
Materi
yang disampaikan selama kegiatan mengajak para peserta didik untuk memahami
pentingnya menghargai perbedaan, membangun komunikasi yang sehat dengan teman
sebaya, serta berani menolak dan melaporkan tindakan perundungan. Para siswa
juga diberikan pemahaman mengenai dampak psikologis maupun hukum dari perilaku
bullying, sehingga diharapkan mampu menjadi pelopor terciptanya budaya sekolah
yang positif.






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)




.jpg)
.jpg)
.jpeg)








